by

Covid-19 Dan Revolusi Scatter ?

-Index, Opini-53 views

Tua muda, laki-laki, perempuan, remaja, bahkan anak-anak Aceh juga ikut bermain game ini. Asalkan ada paket atau wifi, duduk, pesan kopi segelas, lalu putarkan cips. SCATTER…SCATTER.. Big Win, Mega Win, dan Super Win menjadi teriakan kegembiraan dan hiburan, sehingga COVID pun tidak menjadi hal yang menakutkan. Apalagi bagi kalangan pelajar, game ini membuat mereka kecanduan dan rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain. Sebab, sekolah pada tutup dalam situasi seperti ini.

Penulis : Fakhrurrazi, Penulis Buku Sardjana Kehidoepan.

Sejak wabah pandemic COVID-19 melanda dunia hampir 1 tahun ini, menyebabkan hampir semua tatanan aktivitas kehidupan berubah. Dunia usaha, pendidikan, kesehatan sampai kebijakan politik mesti menyesuaikan dengan situasi agar dapat menekan penyebaran virus corona. Sebab, bila cara berkehidupan sebelumnya dijalankan, siap-siap saja kita akan menjadi korban ganasnya virus modern ini.

Lantas, apakah semua ini pertanda bahwa sejarah sedang berubah ? Apakah konsepsi Darwin dengan Teori Evolusinya bahwa manusia sedang diseleksi oleh alam, lalu kita melihat siapa yang akan jadi pemenang, siapa tidak. Siapa yang akan bertahan, atau siapa yang akan musnah ? Atau dalam pandangan religius, bahwa semua ini adalah azab tuhan atas tindak keserahakan manusia mengeksploitasi sumberdaya alam, dan menyeru manusia untuk bertaubat ?

Pertanyaan itu tidak akan menjadi penjabaran disini, sebab masing-masing kita tentu memiliki jawaban yang beragam. Lantas, bagaimana penjabaran dari judul diatas? yang akhir-akhir ini menjadi dorongan saya untuk sekedar merespon kondisi dimana Aceh juga wilayah terdampak pandemi corona virus disease tahun 2019 (Covid-19)

Mungkin semua kita tahu bahwa akhir-akhir ini di Aceh, sedang terjangkit virus SCATTER. Yaitu putaran gratis game Higgs Domino yang diunduh dalam platform digital. Jika seseorang mendapatkan SCATTER, maka kemungkinan besar akan mendapatkan sejumlah bet (skor) yang besar dengan kategori Big Win, Mega Win, dan Super Win.

Tidak tanggung-tanggung, Bet yang didapat bisa puluhan, Satuannya Million (M), Billion (B), bahkan Trillion (T). Yang menariknya adalah, bet tersebut bisa diperjual belikan antar sesama pemain dengan harga pasaran saat ini berkisar 60 ribu – 65 ribu rupiah per 1B , bahkan ada 70 ribu per 1B. Hukum supply vs demand pun berlaku.

Ternyata game ini dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah dan membuat orang rela membeli chips Bet untuk bisa bermain. Mereka berharap bisa melipat gandakan dengan memutarkan Bet sesuai opsi tempat bermain. Sekali mendapatkan SCATTER, maka membuat ketagihan, dan mendorong diri untuk terus bermain. Jika Bet habis, game tersebut memberikan Chips gratis sebanyak 3 kali per hari, dengan jumlah 1M-2M. Inilah membuat orang-orang terus ketagihan bermain, dan berharap peruntungan alias hoki.

Tua muda, laki-laki, perempuan, remaja, bahkan anak-anak Aceh juga ikut bermain game ini. Asalkan ada paket atau wifi, duduk, pesan kopi segelas, lalu putarkan cips. SCATTER…SCATTER.. Big Win, Mega Win, dan Super Win menjadi teriakan kegembiraan dan hiburan, sehingga COVID pun tidak menjadi hal yang menakutkan. Apalagi bagi kalangan pelajar, game ini membuat mereka kecanduan dan rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain. Sebab, sekolah pada tutup dalam situasi seperti ini.

Sementara, bagi kalangan orang tua, pendidik, ulama dan intelektual, fenomena bermain game ini adalah justru mengkhawatirkan. Karena, permainan ini adalah JUDI. Mudharat atau kerugian lebih banyak dibanding manfaatnya. Dalam agama, hukumnya jelas haram, sebab, jika ini tidak dapat dihentikan, maka generasi akan rusak. Bukan hanya uang saja yang habis, tapi waktu juga sia-sia.

Himbauan dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dalam bentuk fatwa sudah mengeluarkan larangan bermain game ini. Akan tetapi, semua itu diabaikan. Larangan jalan terus, SCATTER putar terus. Bahkan sebelumnya, larangan bermain PUBG juga dikeluarkan. Tapi pada faktanya di lapangan, justru permainan ini semakin marak dimainkan.

Lantas siapa yang disalahkan ? Pemimpin kah ? ulama kah ? rakyat kah? Orang tua kah? Pendidik kah ? atau pelajar kah ? atau semua pihak tersebut patut disalahkan? Atau sesama kita saling salah menyalahkan ?

Pertanyaan itu memantik setiap individu untuk mengevaluasi diri pribadi maupun individu dalam kelompok masyarakat, organisasi atau institusi. Sebab, persoalan sudah sedemikian keruh, dan kita dibuat larut dengan suasana. Akhirnya kita tidak mampu melakukan diagnosis masalah, Loss Indetity muncul. Justru yang keluar hanya beragam tuntutan, bukan tawaran solusi. Berapa banyak pemberitaan hanya selalu berisi tuntutan ? bandingkan dengan berapa banyak solusi ?

Kita perlu menarik diri, lalu naik diatas pohon masalah, kemudian melihat keseluruhan sebenarnya apa yang terjadi. Berbagai sudut yang rusak pun bisa kita lihat. Ibarat menaiki helicopter, lalu melihat area hutan yang terbakar, dibanding kita berada dalam hutan itu sendiri. Dengan demikian persoalan dapat dipetakan, dicarikan solusi, serta langkah aksi penanganan pun terlaksana dengan tepat.

Beragam persoalan di Aceh saat ini belum terseleseikan dengan baik. Indeks terendah dalam ujian masuk kampus negeri terendah. Peringkat ekonomi dan kemiskinan tak teratasi. Korupsi terstruktur makin parah. Butir-butir perdamaian belum terlaksana. Egoisme jadi tontonan. Pada akhirnya Syariat Islam hanya menjadi simbolis yang selama ini kita bangga-banggakan. Justru prakteknya jauh dari panggang. Lost identity.

Itulah sebabnya dibutuhkan perubahan atau revolusi dari SCATTER. Kenapa SCATTER ? Bukankah game termasuk judi ? Lantas, revolusi semacam apa yang ditawarkan oleh SCATTER ? Tak lain adalah revolusi cara pandang terhadap dunia serba digital. Kita dituntut untuk melek dan bijak ketika memasuki dunia penuh algoritma, artificial intelligence, dan komputasi canggih.

Sebab, SCATTER bukan game judi konvensional. Tapi berbasis platform digital. Penggunanya tidak terdeteksi. Bila dilarang bermain ramai-ramai alias turnamen, tapi tetap bisa dimainkan dengan sendiri-sendiri. Segala transaksi  tidak bisa kita ketahui. Invisible activities.

Justru game itu adalah petanda sebagai pelampiasan kejenuhan. Orang-orang butuh hiburan. Platform digital menawarkan jawabannya. Bahkan ada yang menjadikan game ini sebagai pendapatan ekonomi ditengah situasi COVID ini. Ini dapat menjadi persoalan serius, bila tidak ditemukan solusi.

SCATTER menjadikan Pemimpin dan elit mempertanyakan kembali kebijakan politik yang diambil. Apakah sudah benar-benar untuk kepentingan rakyat atau tidak. Atau saat merumuskan kebijakan justru sambilan main SCATTER?

SCATTER membuat Ulama kembali merumuskan fatwa lebih konkrit. Penerapannya juga benar-benar terlaksana di lapangan. Jika diperlukan, dapat membuat platform digital untuk memblokir game ini agar tidak dapat diakses lagi. Ulama mesti memiliki cara pandang mendalam terhadap dunia digital, sehingga hal-hal yang merusak ummat, dapat diperangi. Sebuah transformasi pemikiran digital perlu digaungkan.

Pendidik mengevaluasi kembali cara mengajar dan apa yang diajarkan kepada generasi. Memberikan keteladanan dan terus berinovasi cara-cara mengajar terbarukan di dunia serba digital ini. Bahwa kunci kemajuan pendidikan ada ditangan para pendidik. Kemampuan berfikir, bernalar, dan menganalisa anak didik selama ini rendah, perlu ditingkatkan dan benar-benar jadi perhatian.

Pendidikan bukan hanya soal didik mendidik, tetapi mencerahkan. Kurikulum perlu dievaluasi, bila perlu ditambahkan mata pelajaran Berfikir Kritis (Critical Thinking) dan Problem Solving, dimana mengasah panca indra yang pada hakikatnya instrument penting manusia.

Terakhir, pemuda dan pelajar harus sadar tentang tanggung jawab generasi yang mewarisi negeri. Belajar sungguh-sungguh dan lebih rajin. Kemajuan dan kemunduran ada ditangan generasi. Bijak dalam menggunakan teknologi, sehingga tidak lalai dengan SCATTER.

Kira-kira demikian, garis besar revolusi yang dimulai dari SCATTER. Mohon maaf bila keliru.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita