by

Covid-19 Percepat Tranformasi Digital di Aceh ?

Aceh dan Indonesia harus memperhatikan hal ini, dan mencetak ahli-ahli teknologi handal untuk kemajuan bangsa dan ummat manusia. Bila tidak, kita selalu percaya pada keberuntungan pada aplikasi Game Scatter..! Data kita mengalir terus secara gratis ke Scatter,” Fakhrurrazi

Penulis :  Fakhrurrazi  (Penulis Buku Sardjana Kehidoepan)

Tiga hari yang lalu saya menulis tentang revolusi dimulai dari Scatter, dimana game itu memberikan efek hiburan bagi rakyat Aceh di masa pandemic Covid-19. Permainan berbasis digital ini mampu mempengaruhi anak-anak, remaja, bahkan orang tua. Tak dipungkiri, ada yang rela menghabiskan sejumlah uang untuk membeli Bet Chips supaya bisa diputar, lalu berharap memperoleh keberuntungan alias hoki : putaran gratis atau Scatter, Big Win, Mega Win, dan Super Win, dan Jackpot. Kira-kira timbul pertanyaan, sampai kapan orang-orang berhenti memainkan game ini ? atau bila wabah corona tidak ada lagi, apakah masih dimainkan ? atau game ini akan dimainkan sampai menjelang Pilkada dan Pemilu ?

Pertanyaan itu tidak akan menjadi penjabaran disini, sebab dunia digital adalah realitas yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan kita yang serba modern ini. Para innovator game akan berusaha menciptakan dan merobah game dengan berbagai macam versi dan jenisnya. Bila hari ini virus Scatter menjangkiti kita, mungkin kedepan ada virus-virus game lain yang lebih canggih untuk dimainkan.

Dalam beberapa hari ini, saya sedang membaca buku populer yang kritis berbahasa Indonesia. “#Mo, Sebuah dunia baru yang membuat banyak orang gagal paham karya Rhenald Kasali (2019)”, “Jagat digital : Pembebasan dan penguasaan, karya Agus Sudibyo (2019)”, dan majalah Komite.id dengan judul utama “Riset inovasi AI & kedaulatan data untuk merah putih, edisi Agustus-September 2020”. Literatur ini membawa kita untuk mengetahui apa yang tampak dan tidak terlihat mengenai dunia yang kita pantau dari genggaman kita : gadget, yang mana setiap saat selalu kita gunakan untuk bermedia sosial (medsos), mencari informasi (searching), maupun berbelanja  (online shoping di e-commerce).

Peradaban memang sedang berubah, teknologi merupakan salah satu faktor gerak perubahan zaman. Kecerdasan daya pikir manusia telah membawakan beragam inovasi cara berkehidupan untuk memperoleh kebutuhan ekonomi. Dimulai dari zaman berburu, bercocok tanam dan beternak, lalu industri, kemudian saat ini dunia digitalisasi dan automasi. Perubahan adalah sebuah keniscayaan, bisa terjadi secara perlahan-lahan, bisa pula dengan cepat.

Jika kita melihat filosofi fisika klasik, kita mengenal bahwa perubahan terjadi adanya gerak benda terhadap satuan waktu. Semakin cepat benda itu berpindah, maka kelipatan waktu yang dibutuhkan semakin kecil dari satu titik ke titik yang lain. Inilah apa yang disebut dengan konsepsi percepatan. Apa yang mempengaruhi percepatan itu ? Tidak lain dipengaruhi kekuatan benda itu sendiri maupun dari luar. Bila dikaitkan dengan manusia, dari dalam yakni menyangkut kemampuan akal fikiran dan imajinasi. Sementara dari luar, menyangkut lingkungan dan peristiwa yang menimpalinya.

Pertanyaan yang timbul adalah apakah peristiwa Covid-19 saat ini akan mempercepat proses transformasi digital ? Inilah apa yang dibahas lebih dalam dari literatur-literatur tersebut.

Internet begitu cepat berkembang sejak kemunculan perusahaan raksasa seperti Google, Facebook, Microsoft, Apple, Amazon, twitter dan platform lainnya pada akhir 1990an. Masyarakat dunia telah terhubung satu sama lainnya dalam jejaring online (Hyperconnected). Tidak hanya sekedar menggali informasi dan berbagi pengetahuan, berkomunikasi, akan tetapi juga sudah merambah pada arus barang/jasa yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Kapan saja, dan dimana saja.

Tak dipungkiri, kita sudah sangat bergantung pada internet dengan berbagai aplikasi digital yang dihadirkannya. Hampir segala bidang kehidupan terlihat begitu mudah dengan adanya internet ini. Dapat diumpamakan bahwa kehidupan kita sedang berpindah dari dunia nyata ke dunia maya (virtual). Sebagai contoh saat ini : pembelajaran online, belanja online, mengirim e-mail, tatap muka atau rapat, bahkan sampai hiburan bermain game SCATTER.

Hal tersebut menjadi peluang bagi perusahaan digital untuk ambil bagian dari ketergantungan kita akan internet. Beragam aplikasi melalui playstore (android) maupun Appstore (iOS) dapat didownload sesuai kebutuhan pengguna. Semakin banyak menggunakan internet dengan beragam platform digitalnya, maka semakin banyak data yang akan tersimpan/dikoleksi oleh perusahaan penyedia tersebut. Kumpulan-kumpulan data yang sangat banyak dan besar apa yang disebut sebagai big data.

Penulisan Taggar # yang jadi trend merupaya upaya menciptakan big data salah satu media sosial yang populer di kalangan millenial, yaitu Instagram. Rhenald Kasali, menjelaskan bagaimana peristiwa dari tahun 2016 sampai 2019 fenomena tanda # mempengaruhi persepsi dan tindakan netizen atau warga dunia maya. Boikot minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya yang dilakukan di Eropa justru dilakukan menggunakan status viral di media sosial. Isu kebakaran hutan dan kasus tertembaknya oranghutan di salah satu hutan di provinsi di Indonesia, telah menimbulkan framing-framing untuk menolak pemakaian produk CPO. Netizen ramai-ramai membuat status #orangutan #freedom #climatechangethefacts untuk menyuarakan solidaritas dan kepedulian akan lingkungan dan hewan. Contoh lain #UninstallBukalapak, #BoikotSariRoti , #UninstallGrab dsb.

Jutaan taggar itu telah membentuk big data yang tersimpan dalam jaringan alias Clouds (awan) dari platform medsos itu. Data-data itu sangatlah berharga, apalagi diperoleh secara gratis dari setiap individu. Perusahaan akan melakukan pemilihan data dengan menggunakan teknik komputasi awan alias clouds computing dengan menciptakan Algoritma : Machine Learning dan Artificial inteligence guna menganalisis secara otomatis, cepat, dan tepat tentang data itu, lalu menghasilkan luaran berupa informasi arahan untuk dapat digunakan bagi pengguna. Perusahaan Periklanan mendapat peluang menggunakan data ini untuk menyusur khalayak dan memperkenalkan produk mereka langsung kepada pribadi. Tiba-tiba sudah muncul iklan tertentu di Instagram, Facebook, Youtube, dan lain-lain pada kita. Semakin banyak kita mengakses dunia digital : searching, medsos, maupun e-commerce, maka semakin banyak data yang akan diserap oleh platform digital tersebut sebagaimana paparan Agus Sudibyo.

Akses digital dalam masa pandemic ini tentu menunjukkan lonjakan signifikan. Pembatasan aktivitas dalam keramaian, seperti belajar-mengajar, bekerja, konsultasi kesehatan, berbelanja, dan lain-lain justru makin mempercepat transformasi digital. Presiden Jokowi berkali-kali memperingatkan betapa pentingnya percepatan digitalisasi guna mendongkrak perekonomian dan kemajuan bangsa. Negara ini dalam pandangan pakar teknologi dan ekonom, adalah salah satu negara dengan potensi pasar teknologi digital terbesar di dunia. Hal ini dibuktikan dengan pendapatan domestik sebesar 11% dari total keseluruhan sebagaimana dirilis oleh Google dan Temasek. Angka ini dipastikan akan terus naik di tahun mendatang, sehingga dunia digital Indonesia akan memberikan peluang pekerjaan di bidang Programming, Cloud Computing, Big Data Analyst, AI, Cybersecurity, dan sebagainya. Menurut Kominfo, bahwa talenta digital tersebut harus memiliki keahlian abad 21 yaitu Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication.

Di tengah euforia transformasi digital dan keterbukaan akses informasi, maka kepedulian pada perlindungan data pengguna dipandang sangat penting. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melindungi segenap data pribadi rakyatnya. Kelengahan dan ketidakpedulian akan keamanan data, justru menjadi malapetaka bagi bangsa ini. Begitu juga dengan perusahaan-perusahaan digital yang sudah beroperasi, sedang tumbuh, maupun yang akan muncul, tidak semata-mata menambang data untuk kemajuan bisnis, tetapi harus dibarengi dengan nilai moral dengan mengedukasi literasi digital bagi masyarakat. Pemerintah dan perusahaan, bahu-membahu untuk membangun sistem keamanan data. Sementara bagi pengguna, kebijaksanaan dan sikap kritis perlu ditingkatkan dengan memperkuat bacaan atau literasi digital, supaya menggunakan teknologi digital ke arah yang tepat, serta tidak mudah mengkonsumsi berita-berita hoax.

Pada kesimpulannya, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Imajinasi dan kreativitas yakni sebagai bentuk karunia Tuhan yang menganugerahi akal kepada manusia untuk mengelola bumi dan kehidupan sebaik-baiknya. Apa yang terjadi hari ini, mungkin tidak terbayangkan oleh generasi terdahulu, bahkan diri kita sendiri. Perubahan telah terjadi secara eksponensial, tergantung kecepatan varibel pengali yang digunakan, tidak perlu menunggu 20-30 tahun, bahkan 5-10 tahun bisa terjadi. Itulah kedahsyatan teknologi digital dengan konsepsi matematika dan sains yang begitu kompleks, sehingga semua hal bisa disimulasikan dan direkayasa. Aceh dan Indonesia harus memperhatikan hal ini, dan mencetak ahli-ahli teknologi handal untuk kemajuan bangsa dan ummat manusia. Bila tidak, kita selalu percaya pada keberuntungan pada aplikasi Game Scatter..! Data kita mengalir terus secara gratis ke Scatter…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita