by

Dampak Covid-19, Warga Miskin Bertambah

Dampak Covid-19, Warga Miskin Bertambah

TAMIANGSATU.COM – Dampak  wabah Corona Virus Disease tahuan 2019 (Covid-19) yang melanda dunia tidak terkecuali Indonesia, diprediksi jumlah warga miskin akan  bertambah  bahkan  beberapa program pengentasan kemiskinan yang dilakukan bebrapa tahun lalu bakal tidak berarti  karena banyaknya penamabhan warga miskin.

World Bank atau Bank Dunia juga memproyeksi dalam lebih dari dua dekade terakhir untuk pertama kalinya kemiskinan ekstrem akan meningkat di dunia pada tahun ini akibat pandemi Covid-19 yang menyebar keseluruh dunia.

Guna menghindari terjadinya penyebaran virus, sejumlah negara mengambil langkah dan kebijakan lockdown.

Lockdown sendiri artinya kuncian, sebuah situasi di mana orang tidak diperbolehkan masuk atau meninggalkan sebuah bangunan atau kawasan dengan bebas karena alasan sesuatu yang darurat seperti menghindari penyebaran Covid-19.

Ironinya salah seorang petinggi organisasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), Dr Davis Nabarro menyerukan para pemimpin dunia untuk berhenti melakukan penguncian (lockdown) demi ekonomi.

Dr Davis Nabarro bahkan mengklaim, satu-satunya kesuksesan lockdown adalah meningkatkan kemiskinan, tanpa menyebutkan potensi menyelamatkan nyawa. “Penguncian hanya memiliki satu konsekuensi yang tidak boleh Anda remehkan, dan itu membuat orang miskin menjadi semakin miskin,” katanya dikutip dari media Australia News.com yang mengutip The Spectator.

“Kami di WHO, tidak menganjurkan penguncian, sebagai cara utama pengendalian virus ini.” Ujar Navis lagi dilansir CNBC Indonesia, kemarin

Ia menegaskan lockdown dapat dibenarkan hanya untuk memberi waktu bagi para pemimpin menyusun kembali sumber daya untuk melindungi petugas kesehatannya. Ia mengatakan akibat lockdown banyak industri global hancur, misalnya pariwisata dan pertanian kecil.

“Tampaknya kita mungkin memiliki dua kali lipat kemiskinan dunia pada tahun depan. Kami mungkin memiliki setidaknya dua kali lipat dari malnutrisi anak,” ujarnya lagi.

Beliau pun meminta pemimpin dunia melakukan cara lain. Misalnya bekerja sama satu sama lain.

Hal ini berbeda dengan seruan-seruan sebelumnya yang diutarakan lembaga PBB itu. Beberapa kali WHO memperingatkan negara-negara agar tidak berlaku cepat mencabut penguncian terutama selama menghadapi gelombang pertama virus.

“Hal terakhir terjadi di negara mana pun saat membuka sekolah dan bisnis, hanya untuk dipaksa menutupnya lagi karena kebangkitan (corona),” kata Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya ditulis NYPost.

Baca :

Baca :

Baca :

Baca :

Meski begitu, pihak WHO itu juga meminta negara-negara lainnya semakin aktif dalam pengujian dan pelacakan kontak. Sehingga lockdown bisa dibuka dengan aman dan menghindari penguncian lainnya di masa depan.

“Kita perlu mencapai situasi yang berkelanjutan di mana kita memiliki kendali yang memadai terhadap virus ini tanpa mematikan hidup kita sepenuhnya, atau beralih dari lockdown ke lockdown lain yang sangat merugikan bagi masyarakat,” katanya.

Upaya dari berbagai pihak dari media juga tengah menghubungi WHO untuk meminta klarifikasi soal ini. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita