by

DEKLARASI CINTA TANAH AIR: “HUBBU AL- WATHÂNI MIN AL – ÎMÂNI”

-Nasional-62 views


Oleh: SALAHUDDIN HARAHAP

Meskipun sudah jelas sekali bahwa ungkapan “hubbu al-wathāni min al-īmāni” tidak benar jika disandarkan kepada Rasulullah SAW sebagai al – hadīs, tetapi bukan berarti bahwa Islam tidak mewajibkan atau memerintahkan kita untuk mencintai tanah air. 


Telah dituliskan dalam suatu riwayat bahwa Rasulullah SAW sendiri pernah meneteskan air mata saat berada di Makkah tepatnya di sisi Ka’bah dan berkata “andai bukan karena penduduk-mu tidak mengusirku dari kota ini dari negeri ini wahai Makkah, maka tak akan kutinggalkan engkau”.


Pada riwayat lain ditemukan bahwa setelah berdomisili di Yatsrib atau Madinah, “Rasulullah SAW kerap mengajak para sahabatnya untuk berdo’a kepada Allah SWT agar di dalam hati mereka ditumbuhkan kecintaan kepada Negeri Madinah seperti mereka mencintai Negeri Makkah”. 


Barangkali, atas dasar ini lah maka “al-wathānu” lebih pantas di terjemahkan dengan “tanah air” sehingga “hubbu al-wathāni” diartikan sebagai “cinta tanah air”. Istilah “tanah air” sendiri dapat menunjuk pada asal muasal yakni dari mana atau dari apa kita berada atau lahir. 


Al-Qur’ān menegaskan bahwa “tubuh manusia berasal dari saripati tanah” (Q.S. al-Mukminūn:12)- yang bermakna pembauran unsur air dengan unsur tanah — seterusnya disebut dengan “tanah air”. Konsisten terhadap ini, maka mencintai “tanah air” berarti menghargai dan mencintai asal muasal, menghargai dan mencintai sumber. 


Manakala direnungkan lebih jauh, berarti juga menghargai dan mencintai penciptaan dan seterusnya menghargai dan mencintai Sang Pencipta (al-Khāliq). Selain menunjuk kepada asal, istilah “tanah air” ini juga menunjuk kepada keberlangsungan kehidupan seterusnya menunjuk kepada masa depan. 


Disebut demikian, karena seluruh asupan nutrisi (makanan & minuman) yang dibutuhkan manusia untuk dapat melangsungkan kehidupan hingga ke masa depan, telah diperolehnya dari apa yang tumbuh di atas dan dari persekutuan tanah dan air. 


Terkait hal ini Al-Qur’ān mengisyaratkan “hai sekalian manusia makanlah apa saja yang halal dan baik dari yang ada atau tumbuh di bumi” (Q.S. al-Baqarah:168). 
Sejalan dengan ayat ini, maka menghargai dan mencintai “tanah air”, telah berarti juga menghargai dan mencintai penjaga keberlangsungan hidup. 

Istilah “tanah air” terkadang telah diganti dengan istilah “ibu pertiwi”— yang menggambarkan betapa fungsi “tanah air” sebagai pemberi makanan, minuman, perlindungan kepada penduduknya secara tanpa pamrih laksana seorang ibu bagi anak-anaknya.


Bahkan jika direnungkan lebih dalam, menghargai dan memcintai “tanah air” telah dapat bermakna menghargai dan mencintai “kehidupan” itu sendiri, seterusnya menghargai dan mencintai pemberi kehidupan “al-hayyu yuhyī” — yakni Allah SWT.


Mulla Shadrā (1572-1640 M) mengisyaratkan bahwa pertumbuhan atau pergerakan substansial (al-harakah al-jauhāriyyah) pada jiwa manusia telah berjalan secara linier dengan pertumbuhan materi fisiknya. Sehingga kedewasaan pada jiwa akan dicapai hampir secara konsisten dengan kedewasaan usia materi fisik. 

Jika hal ini dapat diterima, maka “tanah air” sebagai sumber kehidupan dan pertumbuhan materi fisik manusia, telah berperan pula dalam menentukan pergerakan jiwa menuju jiwa sempurna (al-nafsu al-muthma’innah) yang melaluinya manusia dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT (al-taqarrub ilallāh).

Dengan begitu dapat lah dikatakan bahwa istilah “tanah air” juga telah menunjuk kepada masa depan manusia bahkan kepada kehidupan eskatologis (ukhrāwīyah) manusia. 

Sehingga penghargaan dan kecintaan kepada “tanah air” dapat pula berarti penghargaan dan kecitaan kepada masa depan atau hari akhir seterusnya kepada penguasa hari akhir “Māliki yaumi al-Dīn” — yakni Allah SWT

JAYALAH TERUS PANCASILA DAN TANAH AIR INDONESIA
Penulis : Salahuddin Harahap, Dosen Filsafat UIN-SU

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita