by

Emisi Gas Rumah Kaca

-Opini-117 views

TAMIANGSATU.COM – Pada dasarnya Gas Rumah Kaca (GRK) ini dibutuhkan untuk menjaga suhu bumi tetap stabil. Perubahan iklim baik secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh aktivitas manusia sehingga mengubah komposisi dari atmosfer global dan variabilitas iklim alami pada periode waktu yang dapat diperbandingkan.

Gas Rumah Kaca adalah gas yang terdiri dari Karbon Dioksida, Metana, Nitrogen, dan sebagainya yang terperangkap pada lapisan atmosper.

Ilustrasi : Gas rumah Kaca

Perubahan pola aktivitas manusia membuat konsentrasi GRK dilapisan atmosper menjadi tebal, penebalan lapisan atmosfer tersebut menyebabkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer bumi semakin banyak, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu bumi, yang disebut dengan pemanasan global.

Peningkatan suhu bumi berdampak pada perubahan iklim global mengakibatkan sejumlah permasalahan lingkungan dan cuaca ekstrim yang berakibat terjadinya bencana alam seperti longsor, kebakaran hutan, kekeringan, penyakit dan gagal panen di berbagai daerah di Indonesia.

Perubahan iklim juga mengancam kehidupan masyarakat pantai karena pemanasan global menyebabkan abrasi dan intrusi air laut. Dampak perubahan iklim mempengaruhi kehidupan perekonomian, mengancam kestabilan ekosistem dan memperpendek usia infrastruktur yang mendukung kehidupan masyarakat.

Sumber penyumbang emisi GRK dalam kehidupan seperti: penebangan hutan,alih fungsi lahan,asap kendaraan,asap pabrik industri,limbah pabrik industri,energi bahan bakar fosil,limbah domestik manusia dan akitifitas pertanian tidak ramah lingkungan.

Permasalahan perubahan iklim dan dampaknya mendorong Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992, menghasilkan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change, UNFCCC).

Konvensi ini bertujuan untuk menstabilisasi konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang tidak membahayakan sistem iklim sehingga ekosistem dapat memberikan jaminan pada produksi pangan dan keberlanjutan pada pembangunan ekonomi, Konvensi Perubahan Iklim memiliki kekuatan hukum sejak 21 Maret 1994 dengan membagi negara-negara peratifikasi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu Negara Annex I dan Negara Non-Annex I.

Negara Annex I adalah negara-negara penyumbang emisi GRK sejak revolusi industri. Sedangkan Negara Non-Annex I adalah negara-negara yang tidak termasuk dalam Annex I yang kontribusinya terhadap emisi GRK jauh lebih sedikit dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih rendah.

Sedangkan langkah indonesia adalah dengan melakukan adaptasi perubahan iklim, mitigasi perubahan iklim, REDD+ dan Proklim. Langkah di atas untuk mengendalikan dampak perubahan iklim dari dampak peristiwa perubahan iklim yang tidak dapat di ubah(irreversibel) agar suhu dunia tidak meningkat 2 derajat celcius lebih hangat. Mari jaga lingkungan kita jangan rusak alam kita demi kehidupan yang lebih baik.(Al Ramzi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *