by

Filosofi Kaya Dalam Islam

Dengan kaya, kita bisa membantu lebih banyak orang. Dengan kaya, kita tidak dijajah. Dengan kaya, kita bisa berdaulat. Dengan kaya pun kita bisa bersedekah dan bermanfaat lebih banyak lagi,” Abdul Muid Badrun

Kaya bukanlah larangan dalam Islam, malah kita dianjurkan untuk menjadi kaya namun tentunya cara mencari kaya dengan cara-cara yang diridhai Allah SWT sehingga harta itu bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Dengan harta yang dimiliki, kita dapat berjuang di jalan Allah SWT seperti dijalan pendidikan, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi. Kaya tentu berbeda dengan sombong, namun tidak kita nafikkah kadang kekayaan yang kita miliki menjadi kita sombong jauh dari jalan Allah SWT.

Berikut filosofi kaya yang di ulas Abdul Muid Badrun seperti dilansir republika.id   

Mari kita pahami makna beberapa ayat berikut ini: “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia (ingin kaya): ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.” (79).

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (81). 

“Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan (kaya seperti) Qarun itu, berkata: ‘Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)’.” (82).

 “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Qasash: 79-83). 

Memahami empat ayat di atas memberikan motivasi pada kita bahwa kaya itu keharusan bagi umat Islam. Yang dilarang, sekali lagi, yang dilarang adalah kesombongan. Seperti sombongnya Qarun ketika sebelumnya saleh, miskin, dan tidak punya apa-apa, lalu menjadi kaya karena doa Nabi Musa (QS al-Qashash: 76).

Dari sinilah kita harus selalu ingat, jangan sampai ketika sudah kaya malah lupa diri. Kaya adalah anugerah dari Allah. Karena yang diberi kesempatan kaya adalah hamba-Nya yang dikehendaki (terpilih). Maka, sudah kewajiban kita untuk saleh agar kekayaan itu bernilai manfaat. 

Saya jadi teringat lima rukun Islam itu bisa sempurna ditunaikan ketika kaya. Jadi, menjadi hamba-Nya yang kaya dan saleh adalah perintah Allah. Dengan kaya, kita bisa membantu lebih banyak orang. Dengan kaya, kita tidak dijajah. Dengan kaya, kita bisa berdaulat. Dengan kaya pun kita bisa bersedekah dan bermanfaat lebih banyak lagi. 

Kaya tidak ada kaitannya dengan kepandaian, pendidikan tinggi atau keturunan. Betapa banyak orang kaya, padahal kecerdasannya biasa-biasa saja atau tidak tamat kuliah dan tak pernah mengecap pendidikan. Tidak sedikit orang kaya dari keturunan orang biasa. Maka, kaya tidak bisa direkayasa. Kaya adalah soal kerja keras dan kepantasan diri di hadapan-Nya. 

Nabi Muhammad SAW pun kaya. Sejak usia 12 tahun ia ikut pamannya berniaga ke Suriah. Bakat dagangnya mulai dipupuk sejak dini. Pada usia 17 tahun, Muhammad mendirikan perusahaan sendiri dalam bidang distribusi. Salah satu pelanggannya adalah Khadijah yang akhirnya menjadi istrinya. 

Menginjak usia 37 tahun, Muhammad menjadi saudagar yang kaya raya. Pada usia 40 tahun, Muhammad menerima wahyu pertama dari Allah dan menjadi Rasulullah dan wafat di usia 63 tahun.

Karena itu, jelas membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW hidupnya lebih lama sebagai pedagang (orang kaya) yang saleh daripada sebagai utusan Allah (Rasullullah). Wallahu a’lam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita