by

Ini Dia Peristiwa Penting di Hari Asyura

Ini Dia Peristiwa Penting di Hari Asyura

Banyak peristiwa penting di hari Asyura tidak hanya dikenang namun diambil hikmah dan pelajaran dalam kehidupan untuk meningkat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.  Dalam hadits  disebutkan, ada dua peristiwa dari sekian banyak peristiwa penting yang terjadi di hari Asyura. Yakni, berlabuhnya perahu Nabi Nuh dengan selamat di bukit Judiy dan selamatnya Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun beserta bala tentaranya.

Saat ini kita sudah memasuki Bulan Muharram dan besok, Sabtu (29/8/2020), kita memasuki hari kesepuluh Muharram 1442 Hijriah, !0 Muharram biasa dikenal dengan sebutan hari Asyura.

Dilansir islam.nu.or.id, banyak peristiwa penting dan bersejarah yang terjadi pada hari Asyura. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa,  Ia berkata: “Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati sekelompok orang Yahudi yang tengah berpuasa hari Asyura, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Puasa hari apa ini?,” mereka menjawab: Hari ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Isra’il dari tenggelam, sedangkan Fir’aun di hari ini tenggelam. Hari ini adalah hari ketika perahu Nabi Nuh berlabuh di bukit al Judiy. Karena itu, Nuh dan Musa berpuasa di hari ini karena bersyukur kepada Allah ta’ala.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa dan lebih berhak untuk berpuasa hari ini,” kemudian Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.” (HR Imam Ahmad).

Dalam hadits di atas, disebutkan dua peristiwa dari sekian banyak peristiwa penting yang terjadi di hari Asyura.peristiwa itu berlabuhnya perahu Nabi Nuh dengan selamat di bukit Judiy dan selamatnya Nabi Musa dari kejaran Raja Firaun beserta bala tentaranya.

Nabi Nuh ‘alaihissalam diutus oleh Allah kepada kaum yang kafir. Beliau-lah nabi dan rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada orang-orang kafir. Para nabi dan rasul sebelumnya, yaitu Nabi Adam, Nabi Syits dan Nabi Idris ‘alaihimussalam diutus oleh Allah kepada kaum Muslimin. Umat ketiga nabi tersebut semuanya beragama Islam. Tidak ada satu pun yang kafir. 

Dengan penuh kesabaran, Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara rahasia dan terang-terangan. Kadangkala dengan menyampaikan kabar gembira (targhib) dan terkadang dengan memberi peringatan (tarhib). Beliau konsisten dalam berdakwah selama 950 tahun. Akan tetapi kebanyakan kaumnya tidak beriman. Mereka tetap pada kesesatan dan kekufuran.

Mereka memusuhi Nabi Nuh, menyakitinya, melecehkannya bahkan memukulinya. Mereka tidak berhenti memukuli Nabi Nuh ‘alaihissalam sampai beliau pingsan karena pukulan yang bertubi-tubi dan sangat keras, sehingga mereka mengiranya telah mati, lalu Allah menyembuhkannya.

Itu semua tidak mengendorkan dan mematahkan semangatnya dalam berdakwah. Berkali-kali Nabi Nuh ‘alaihissalam mengalami siksaan demi siksaan, tapi beliau tetap kembali mengajak mereka agar beriman. 

Hal ini dilakukan oleh Nabi Nuh ‘alaihissalam secara terus menerus tanpa patah semangat dan tanpa bosan, hingga Allah mewahyukan kepadanya bahwa tidak akan beriman kepadanya di antara kaumnya kecuali orang-orang yang telah beriman.

Maka Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa agar orang-orang kafir dimusnahkan semuanya. “Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.”  (QS Nuh: 26)

Lalu Allah kirimkan kepada mereka adzab-Nya. Allah timpakan kepada mereka banjir besar sehingga tidak menyisakan satu orang pun di antara orang-orang kafir. Allah selamatkan Nabi-Nya dan orang-orang beriman di antara  kaumnya dengan perahu yang dibuat oleh Nabi Nuh dengan perintah Allah. Allah pun menjaga perahu tersebut dengan pemeliharaan dan perhatianNya hingga berlabuh dengan selamat di bukit Judiy.

Sedangkan Sayyidina Musa, beliau hidup di masa raja yang zalim dan melampaui batas, di zaman itu, Fir’aun mengaku sebagai tuhan. Allah memerintahkan Sayyidina Musa agar pergi kepada Fir’aun untuk mengajaknya masuk ke dalam Islam, mentauhidkan Allah dan menyucikanNya dari sekutu dan serupa.

Maka Nabi Musa pergi dan memperlihatkan kepadanya mukjizat-mukjizat yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa beliau benar-benar utusan Allah ta’ala. Meskipun begitu, Fir’aun tetap kafir kepadanya, menolak dan bersikap congkak serta menyiksa dan menindas kaum Nabi Musa yang beriman.

Akhirnya Nabi Musa ‘alaihissalam dan para pengikutnya dari kalangan Bani Isra’il keluar dari Mesir dengan jumlah 600 ribu orang. Fir’aun mengejarnya bersama 1.600.000 pasukan karena ingin memusnahkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Akan tetapi Allah menolong Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:  “Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu,” maka terbelah-lah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.”   (QS asy-Syu’ara’: 63) 

Laut terbelah menjadi 12 belahan dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Di antara setiap dua belahan ada jalan yang kering. Nabi Musa ‘alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya masuk ke laut. Fir’aun dan pasukannya pun mengejar mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala kemudian menenggelamkan mereka semua dan Allah selamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya. Allah ta’ala berfirman:  Maknanya: “Dan Kami menyelamatkan Bani Isra’il melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir´aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka).

Saat Firaun hampir tenggelam, ia berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Isra’il, dan saya termasuk orang-orang yang memeluk Islam.” Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”  (QS Yunus: 90-91).

Yakni ketika Fir’aun hampir tenggelam dan mati, ia menyatakan taubat. Padahal taubat tidak lagi bermanfaat dan tidak diterima dalam keadaan seperti itu. Karena di antara syarat taubat adalah dilakukan sebelum seseorang putus asa dari hidup seperti ketika akan tenggelam dan tidak ada kemungkinan selamat. Inilah yang terjadi pada Fir’aun.

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang  mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekufuran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”  (QS an-Nisa’: 18).

Para nabi Allah telah memberikan kepada kita contoh dan teladan dalam  berdakwah kepada Allah dan bersabar untuk itu. Di atas garis  perjuangan mereka inilah para sahabat dan para ulama berjalan.

Mereka mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela agama Allah. Teladan Sayyidina al-Husain radliyallahu ‘anhu yang gugur syahid pada hari Asyura selalu lekat dalam ingatan kita. Ketika beliau melihat orang yang tidak cakap memimpin kaum muslimin ingin meraih puncak kepemimpinan tanpa baiat dari tokoh-tokoh pembesar kaum muslimin yang berilmu dan bertakwa, maka beliau terang-terangan menentang hal itu dan menolak untuk diam.

Al-Husain berpegang teguh dengan kebenaran dan konsisten dengannya, menegakkan amar makruf nahi mungkar hingga ia terbunuh padahal beliau adalah putra dari putri Rasulullah shallallahualaihi wasallam. Beliau gugur syahid secara zalim di tangan pasukan seorang  yang fasiq dan melanggar aturan-aturan agama. 

Kita memohon kepada Allah ta’ala agar memberikan taufiq kepada kita untuk mengambil pelajaran dari sepak terjang dan sejarah hidup orang-orang shalih tersebut dan berjalan di atas manhaj mereka.

Diantara perkara yang diriwayatkan dari Nabi adalah, kesunnahan puasa hari Asyura sebagaimana terdapat dalam hadits yang telah kami sebutkan di awal khutbah. Demikian pula disunnahkan puasa hari Tasu’a’, yaitu tanggal 9 Muharram yang jatuh pada hari ini, berdasarkan sabda Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku masih hidup tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tanggal sembilan”  (HR Muslim)

Hikmah dari puasa tanggal 9 di samping berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama adalah menyalahi orang-orang Yahudi, karena mereka hanya berpuasa di tanggal 10 saja. Jika seseorang tidak berpuasa tanggal 9 bersama tanggal 10, maka disunnahkan berpuasa tanggal 11 Muharram bersama tanggal 10. Bahkan Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm menegaskan kesunnahan puasa tiga hari sekaligus, yaitu tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita