oleh

Ketika Corona Jadi Kekuatan yang Menakutkan, Zikirlah Penakluknya

-opini-35 views

Penulis : Dosen Filsafat UINSU, Salahuddin Harahap,

Pada salah satu iklan TV Swasta, ada satu iklan tentang Corona yang cukup menggugah dengan tagline seperti berikut: “Jangan sebarkan kecemasan terhadap Corona, tapi sebarkanlah tradisi dan kebiasaan baru yang dapat menghalau penyebaran dan bahayanya”. Memang lah, saat ini antara bahaya dan kecemasan terhadap Corona ini sudah berbanding lurus, bahkan dalam konteks tertentu kecemasan terhadapnya, telah melampaui bahaya dan penyebarannya.

Kecemasan, rasa takut, rasa khawatir dan was-was, justeru merupakan bencana terbesar bagi manusia, bahkan melebihi bahaya wabah maupun bencana alam dan perang. Rasulullah Saw mengisyaratkan bahwa “Jihad terdahsat itu adalah, jihad untuk mengendalikan diri agar tetap selaras dan seimbang”. Pada sisi lain, fakta dahsatnya bencana kecemasan, rasa takut dan was-was inilah yang mendorong iblis untuk memilih makhluk-makhluk ini sebagai alat sekaligus sekutu untuk menghancurkan, memperdaya eksistensi manusia agar terjerembab dalam kesesatan.

Menarik untuk merenungkan penuturan Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Ra sebagai berikut:

Allah Swt telah menciptakan besi (al-hadid) sebagai makhluk terkuat di bumi. Menyadari hal itu, besi pun mulai menyombongkan diri dan menantang benda apa saja yang ada, hingga kemudian Allah Swt menciptakan api yang dapat membakar dan menghancurkannya. Lalu api pun mendeklarasikan diri sebagai makhluk terkuat di bumi pasca kemenangannya dari besi. Api mulai mengiklankan kekuatannya dengan penuh kesombongan kepada benda-benda lain, hingga kemudian  Allah Swt menciptakan air yang dapat memadamkan, menghalanginya untuk menyala.

Air pun merasa begitu kuat dan dengan sangat sadar menyombongkan diri sebagai makhluk terkuat, sehingga Allah Swt menciptakan manusia yang selain terdiri dari empat anasir juga  diberi jiwa. Air pun harus tunduk kepada kecerdasan manusia yang seterusnya menjadikan manusia sebagai makhluk terkuat di bumi.

Berdasarkan predikat itu, lalu manusiapun mulai menyombongkan dirinya sebagai makhluk terkuat, hingga kemudian Allah Swt menciptakan rasa ngantuk dan tidur yang seketika bisa melumpuhkan manusia baik fisik, inderawi bahkan logika dan kesadarannya.

Kini tidur pun, menyombongkan dirinya sebagai penakluk manusia, hingga Allah Swt menciptakan rasa wasa-was, ketatukan, kekhawatiran yang dapat mengalahkan sang tidur. Sampai pada level ini tampak sangat jelas bahwa was-was, kekhawatiran, ketakutan dan kegelisahan telah menjadi makhluk terkuat penakluk kehidupan di bumi.

Cukup logis, ketika iblis menjadikan makhluk-makhluk ini sebagai alat dan sekutu dalam melancarkan serangannya untuk merusak fithrah dan ekesitensi manusia yang dalam bahasa teologi disebut “Menyesatkan” atau “Misi Penyesatan”.

Penting diingat bahwa, Corona ini adalah musibah atau wabah yang berevolusi sedemikian rupa hingga sulit untuk kita dikendalikan karena halusnya atau karena kecepatan evolusinya. Akan tetapi, sepanjang Corona ini hanyalah virus dari milyaran virus yang ada, cepat atau lambat akan teratasi lewat rekayasa penemuan sains dan teknologi manusia.

Akan lebih sulit, jika Corona ini kemudian dijadikan wadah atau sarana propaganda iblis untuk menembakkan senjata perangnya berupa rasa was-was, ketakutan, kekhawatiran yang menjadikan Corona ini tidak hanya dapat menyerang kesehatan fisik manusia, tetapi juga keselarasan logika, nalar dan jiwa manusia.

Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Ra, melanjutkan dawuh-nya dengan mengatakan bahwa untuk menghancurkan kesombongan rasa was-was, kekhawatiran, kegelisahan dan ketakutan tersebut, Allah Swt menciptakan Dzikir atau Dzikrullah yang segera dapat menghalau dan menghancurkan rasa-rasa ini dan menghadirkan ketenangan dan keselarasan. Al-Qur’an yang mulia menjelaskan bahwa “Ala bi dzikrillahi thathmai na al-qulub: Q.S. al-Ra’d: 28). “Sejatinya dengan berdzikir kepada Allah, ketenangan dan keselarasan hati akan segera hadir”.

Dzikrullah dengan demikian telah menjadi makhluk terkuat yang dapat menghempang bahkan alat pamungkas yang dimiliki oleh iblis. Dzikrullah perlu diperkuat disebarluaskan untuk melawan berbagai bencana baru yang menumpang pada Corona ini, seperti kekhawatiran, was-was, ketakutan. Sebab, jika tidak segera dilawan, maka Corona tidak hanya mengancam kesehatan raga kita, tetapi juga akan menghantam keseluruhan eksistensi kita dengan hadirnya kecurigaan, perpecahan, perselisihan bahkan permusuhan.

Dzikrullah dibutuhkan untuk mengaskan bahwa Corona tidak akan menang dari kecerdasan nalar kita, dalam mencipta vaksin dan penangkalnya. Dzikrullah penting untuk mengaskan bahwa rasa kebersamaan dan persatuan kita tidak akan terpecah belah hanya dengan kehadiran Corona ini. Dzikrullah penting untuk menegaskan bahwa rasa kasih sayang dan kepedulian di antara kita tidak akan kalah dengan ancaman kekurangan dan kemiskinan yang dikumandangkan Corona ini. Dzikurullah penting untuk menegaskan bahwa kedisiplinan dan kesadaran kita tidak akan kalah dengan sistem penyebaran Corona ini. Akhirnya marilah kita memohon perlundungan dan kekuatan kepada Allah Swt untuk memenangkan perang lawan Pandemi Corona ini. Wallahu A’lam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Index Berita