by

Mantan Wagub Aceh Muhammad Nazar Raih Penghargaan Best Legislator Award

Mantan Wagub Aceh Muhammad Nazar Raih Penghargaan Best Legislator Award

TAMIANGSATU.COM – Mantan Wakil Gubenur Aceh, Muhammad Nazar yang juga Ketua Partai SIRA dan juga aktifis Aceh 1998 meraih penghargaan Best Lagislator Award 2021 dari Berlian Organizer katagori kategori “Inspiring Innovative Professional 2021,” Sabtu (19/2/2021) malam di Jakarta

Berlian Organizer adalah sebuah kelompok kerja wartawan di Semarang. Kelompok ini menjembatanipersoalan-persoalan antara eksekutif, legislatif, yudikatif, serta pers dan komponen masyarakat di Jawa Tengah.

Pada malam itu ada 35 tokoh yang mendapatkan penghargaan tersebut dari berbagai profesi dan lembaga, mulai dari mulai dari lembaga keuangan,  perbankan dan dunia usaha hingga  organisasi dan tokoh sosial politik dinominasikan.

Ketua Panitia, Denada dan Fenny pada peneyrerahan penghargaan tersebut mengatakan, mereka dinilai itu dari berbagai sisi mulai ide, karakter, inovasi hingga  aksi, keberanian dan ketangguhan dalam dunianya masing- masing yang mempengaruhi nilai dan respon orang di bidangnya sekaligus mempengaruhi hingga ukuran nasional.

Muhammad Nazar Mantan Wakili Gubernur Aceh mendapatkan penghargaan tersebut dalam kapasitasnya sebagai ketua umum partai sira dan spirit aktifismenya yang selalu tanggung, memiliki daya tahan luar biasa yang didasari ideologi, ide, konsep dan strategi perubahan serta selalu mempengaruhi dan menarik perhatian publik luas.

Mantan Wagub Aceh Muhammad Nazar raih Best Legislator Award

Muhammad Nazar dalam sambutannya usai menerima penghargaan Best Legislator Award mengatakan, Partai lokal SIRA di Aceh bukanlah  hadir tiba-tiba. Sejumlah pengorbanan serius terjadi dan Parlok, salah satu bagian dari klausul perdamaian RI dan GAM.

Dijelaskan Nazar, tahun 1999 ketika sedang persiapan konsep perundingan yang dimediasi Henry Dunant Centre (HDC) di sela-sela kampanye referendum Aceh, SIRA (Sentra Informasi Referendum Aceh) telah mengajukan proposal harus adanya partai lokal dan pemilu lokal khsusus dan itu harus masuk dalam perundingan yang mulai dirintis.

Namun perundingan itu gagal di tahun 2003 dan berganti dengan darurat militer. Tekanan yang begitu berat tak membuat dirinya putus asa, bahkan dalam keadaan dipenjarakan Nazar dan SIRA terlibat dalam memajukan rencana perundingan baru yang lebih kuat dan itu kemudian menjadi fakta setelah CMI menggantikan peran HDC melanjutkan proses media perundingan antara RI dan GAM.

Selama proses perundingan itu, SIRA secara khsusus ikut memasukkan beberapa tuntutan termasuk referendum dan harus adanya partai lokal di Aceh, perhitungan ulang hasil alam Aceh yang diekplotasi negara selama puluhan tahun dan harus dikembalikan sebagian besar ke Aceh, jaminan pelaksanaan hak hak sipil dan poltiik sesuai konvenan internasional PBB dan sejumlah usulan lainnya yang disampaikan ke pimpinan Gam, RI dan CMI.

Perundingan akhirnya ditandangani dengan sejumlah kesepakatan termasuk diperbolehkan adanya parlok parlok yang khsusus di Aceh hingga dana Otsus dan pembagian hasil alam.

Partai Jangan Bebani Rakyat  

Khusus terkait Parlok, lanjut salah satu tokoh yang digadang – gadang para tooh jadi Wagub Aceh mendampingi Nova menjelaskan, kehadiran partai-partai politik baik lokal maupun nasional di Aceh tidak boleh membebani, memberatkan dan merugikan rakyat. Jika suatu partai baik karena pengaruh pimpinnnya atau karena visi misi serta programnya tidak menyulitkan rakyat maka prinsip dan tujuan demokrasi otomatis terlanggar.

Sadar atau tidak, diakui atau tidak, bahwa tidak sedikit elit dan kader partai di daerah maupun nasional begitu sering membuat kerumitan terhadap pencapaian hak hak rakyat dan menghambat pembangunan.

Ketika menjadi penguasa, yang muncul dominan adalah keinginan monopoli dan pembatasan kekuasaan. Ini berbahaya dan itu jadi berbeda dengan prinsip demokrasi dan jargon kampanye.

“Partai lokal maupun nasional tidak boleh rugikan rakyat. Setiap partai harus sadar diri bahwa mereka berasal dari rakyat, untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara,” ujar Muhammad Nazar

Muhammad Nazar Best Legislator Award

Lanjutnya lagi, partai juga harus tampil serius menghilangkan penyimpangan-penyimpangan dalam pembangunan sehingga partai bermanfaat. Partai politik sebagai bahagian dari politik demokrasi tidak boleh eklusif sama sekali.

“Jika eklusif maka filosofi politik demokrasi kehilangan makna dan tak ada beda dari kekuasaan warisan atau kekuasaan yang dibatasi secara eklusif,” ujarnya lagi.

Baca :Ditlantas Aceh Service dan Ganti Oli Gratis Becak Motor

Baca :Dampingi Nova, Relawan Center Irwandi-Nova Aceh Tamiang Dukung Nazar Wagub Aceh

Muhammad Nazar kepada Acehsatu.com mengatakan, dirinya mendapat penghargaan karena dianggap sangat tangguh menghadapi kondisi di Aceh dan tak pernah menyerah meskipun pernah mengalami kekerasan dan intimidasi saat pemilu 2009.

Dan juga keuletan membuat partai kembali  dalam waktu yang tidak biasa, yaitu dalam waktu singkat mampu menjadikan Partai SIRA dan menjadi peserta pemilu 2019 padahal banyak partai lain yang sudah disiapkan selama dua sampai tiga tahun sebelum pemilu justru gagal. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita