by

Mencetak Insinyur (adalah jalan) Membangun Aceh

-Opini-37 views

Oleh : Ir. Fakhrurrazi, ST
Alumni Program Studi Profesi Insinyur – Univ. Syiah Kuala

TAMIANGSATU.COM– Pada Bulan April 2021, Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh mengadakan Talkshow dengan Tema “Kesejahreraan Aceh: Tantangan dan Solusi”. Secara pribadi, saya memang tidak terlibat dalam acara tersebut. Melalui status para tokoh di media sosial, seperti Dr. Saiful Mahdi (Dosen Universitas Syiah Kuala) dan Tgk. H. Fadhil Rahmi, Lc (Anggota DPD-RI Aceh), disampaikankesimpulan utamanya bahwa “Aceh hanya mungkin maju dan sejahtera melalui pendidikan dan pengetahuan! “.

Timbul beberapa pertanyaan terhadap kesimpulan itu, diantaranya : Pendidikan dan Pengetahuan macam apa yang harus jadi prioritas untuk meraih kemajuan ? Apakah program pendidikan dan pengetahuan selama ini tidak bisa diandalkan ? Bukankah seharusnya Hukum Syariat Islam mampu menghadirkan pendidikan dan pengetahuan yang ideal untuk meraih kemajuan dan kesejahteraan ?

Serangkaian pertanyaan itu memantik siapa saja untuk memberikan jawaban, terlebih para pakar di bidang pendidikan. Kita sepakat bahwa semua ilmu dan pengetahuan memiliki nilai guna dan manfaat bagi kehidupan manusia. Sebab, ia berasal dari Tuhan melalui kitab suci dan segala isi alam semesta ini. Ajaran Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW mewajibkan orang-orang mukmin untuk menuntut Ilmu pengetahuan, baik berasal dari Barat maupun Timur. Dengan Ilmu pengetahuan, maka kehidupan ummat akan terang, baik di dunia maupun di akhirat.

Terlebih di zaman now yang disebut era digital dan globalisasi. Akses informasi yang mengalir begitu deras, tanpa batasan ruang dan waktu. Ilmu pengetahuan telah memainkan peranan penting sejak era pencerahan (Renaissance) Eropa abad Pertengahan, maupun munculnya Revolusi Industri abad 18. Negara-negara barat akhirnya menjadi kiblat di bidang pendidikan sains dan teknologi, sekaligus mengendalikan sistem dunia yang begitu kompleks yang kita rasakan sampai saat ini.

Sementara, bangsa kita menjadi penikmat beragam produk teknologi yang dibuat oleh para Insinyur (engineer) mereka, mulai dari pembangkit sumber daya energi, transportasi, material infrastruktur, peralatan pertanian, komputer, barang-barang rumah tangga, dan lain-lain sebagainya, bahkan sampai urusan produk celana dalam. Negara Barat mampu menciptakan industri, lalu menghadirkan produk barang/jasa, dan pada akhirnya menggerakkan perekonomian.

Kembali lagi pada pertanyaan diatas, dimana jawaban yang diperoleh berguna untuk merumuskan arah dan kebijakan pendidikan bagi masyarakat Aceh untuk meraih kemajuan dan Kesejahteraan. Secara keseluruhan, penanaman “New Mindset” tentang kebijakan pendidikan yang jadi prioritas perlu disepakati bersama.

Realita yang kita temui berbagai diskusi dan wacana, Aceh selalu mengelu-elukan kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki baik di permukaan maupun di perut bumi. Sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, dan kelautan selalu menjadi kebanggan. Namun pada faktanya, justru kemiskinan yang timbul ke permukaan. Sehingga Pemerintah Aceh menjadi bulan-bulanan, dicap atas ketidakberesan dalam mengelola kekayaan itu. Selain hal tersebut, kita juga menggaungkan bahwa Aceh tak memiliki kapasitas sumberdaya manusia (SDM) mumpuni.

Secara tegas, kami ingin menyampaikan pandangan bahwa untuk mengelola kekayaan sumberdaya alam aceh agar meraih kemajuan dan kesejahteraan. Maka rumusan pendidikan Sains dan Teknologi yang melahirkan profesi Insinyur mesti menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. Porsi pendidikan dan pengetahuan di bidang ini harus lebih besar, mulai dari pendidikan tinggi maupun vokasi. Investasi harus dilakukan besar-besaran bila di masa depan, Aceh bisa mandiri dan unggul dalam mengelola kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki. Mindset sains dan teknologi harus menjadi bahan utama kebijakan politik pendidikan Aceh.

Para Insinyur harus diberikan peluang dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan profesinya. Mereka bersama-sama dengan pemangku kebijakan merumuskan arah atau Roadmap Industri terintegrasi dari hulu ke hilir agar tercipta sistem perputaran ekonomi. Selain itu semakin banyak Insinyur, maka kebijakan politik senantiasa lahir atas kesadaran mentalitas ilmiah dan rasional. Hal ini berdampak pada semangat riset yang menghasilkan produk tidak hanya prototipe, tetapi juga produk jadi yang dapat diapikasikan dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Cita-cita kemandirian pun dapat tercapai, maka otomatis yang terjadi adalah revolusi kehidupan masyarakat aceh penuh nuansa teknologi. Aceh unggul di bidang teknologi, maka mandiri pula pengelolaan sumberdaya alam sebagai basis pembangunan ekonomi.

Kondisi saat ini, Para Insinyur di Aceh tergabung dalam Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Aceh, serta dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, IPU. Sementara, pendidikan profesi Insinyur dilaksanakan di Universitas Syiah Kuala. Apa yang dikatakan oleh beliau bahwa Aceh sebagai provinsi yang memiliki banyak potensi SDA, berupa energi, minyak dan gas, sangat dibutuhkan peran besar dan kontribusi insinyur di provinsi ini untuk mengelolanya. Adapun tantangannya adalah perkembangan dan dinamika global, sehingga kompetensi adalah kunci untuk bersaing di tengah era disrupsi yang terus terjadi saat ini

Oleh karena itu, kembali lagi pada pembangku kebijakan di Aceh untuk merumuskan arah pendidikan yang tepat bagi Aceh agar cita-cita meraih kemajuan dan kesejahteraan ekonomi bukan sebatas wacana maupun diskursus. Akan tetapi, benar-benar bisa diimplementasikan dalam realita, agar menjadi daerah yang unggul dengan kehadiran Para Insinyur handal yang dengan karya-karyanya membawa kemajuan bagi Aceh. Sebuah negeri Syariat Islam yang menjadi dambaan, tidak hanya inspirasi bagi Indonesia, akan tetapi jadi kebanggan Nabi Muhammad SAW. Karena apa, karena Aceh kuat secara keimanan, juga kuat secara pengetahuan, terutama sains dan teknologi. Sekali lagi, tergantung Mindset para perumus pendidikan untuk mengambil kebijakan yang tepat. Wassalam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *