by

Mengkader Pemimpin di tingkat Gampong


By Fakhrurrazi
(Penulis Buku Sardjana Kehidoepan)

Sejak tanggal 5 Februari 2021 saya memutuskan pulang ke kampung halaman, setelah menyeleseikan kegiatan bimbingan Praktek Kerja Industri (Prakerin) SMK Geologi Pertambangan di Aceh Tamiang selama 3 bulan. Pengalaman menggembleng dan mengarahkan peserta didik untuk mencapai sebuah tujuan dibutuhkan upaya kesabaran, kecintaan, kasih sayang, dan terus menerus komunikasi tentang materi yang dipelajari. Sebab, setiap pribadi dianugerah tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Akan tetapi, perlakuan yang adil akan menciptakan rasa kesetaraan, lalu terbentuk kerjasama yang baik, sehingga tujuan dapat diraih.

Di kampung halaman, ketika bertemu dengan kawan-kawan, saudara, pemuda, maupun tokoh masyarakat, sering dipertanyakan apa isi dari buku Sardjana Kehidoepan yang saya tulis tahun 2020. Secara singkat, buku tersebut memuat catatan yang diperoleh dari hasil pengamatan, fikiran, dan analisis terhadap atas peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Makna Sardjana Kehidoepan adalah setiap orang alias individu yang terus-menerus mengasah panca inderanya, terus belajar, mengamati, merasakan, dan menganalisis pengalamannya, kemudian dituangkan kedalam sebuah buku. Kesimpulannya, kita semua adalah sardjana bagi kehidupan kita masing, karena kehidupan adalah tempat kuliah seumur hidup.

Ditingkat gampong sendiri, telah banyak yang bergelar sarjana, baik yang menempuh di institusi pendidikan, maupun universitas kehidupan. Lantas, ketika kita memiliki banyak sarjana, lalu bagaimana semestinya kumpulan para sarjana terlibat aktif dalam pembangunan gampong ? Ini menjadi pertanyaan menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Masing-masing memiliki pandangan berbeda, sebab masing-masing kita adalah sarjana itu sendiri.

Sejak Gampong mendapatkan kucuran dana desa setelah disahkan UU No.6 Tahun 2014, telah dilaksanakan pembangunan seperti : sarana-prasarana infrastruktur, bantuan sosial, gizi dan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, sampai urusan administrasi pemerintahan. Gampong memang diberikan otoritas mandiri untuk mengelola program dan anggaran sebaik-baiknya. Semua pasti untuk tujuan kesejahteraan dan kemajuan.

Pertanyaan yang timbul adalah apakah kehadiran dana desa tersebut benar-benar telah mendatangkan kesejahteraan dan kemajuan ? Jika jawabannya ya, apa indikator yang menentukannya, sehingga masyarakat benar-benar merasakannya ? Apakah cukup dibuktikan dengan lembaran-lembaran Laporan pertanggung jawaban ? Jika jawabannya tidak, bagaimana seharusnya meraih kesejahteraan dan kemajuan ? Lantas, darimana kita memulai pembangunan untuk menuju jalan kesejahteraan dan kemajuan ?

Kita dapat sepakat, bahwa awal pembangunan mesti dimulai dari tahapan masing-masing pribadi. Mustahil sasaran itu dicapai, jika dalam diri masing-masing belum memiliki kesadaran jiwa mendalam yang diperoleh dari renungan dan instrospeksi. Bagaimana merespon kenyataan, maka dibutuhkan pengamatan yang tajam, pendengaran yang terang, dan pemikiran yang jernih, barulah muncul sikap untuk bertindak kearah yang tepat. Ibarat dalam sebuah kelompok perang, dimana pemimpin dan prajurit sama-sama memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, menyerap informasi dengan akurat, serta terus menerus dibimbing oleh rasa kebersamaan, satu komando, maka tercipta sebuah tim yang solid untuk mencapai kemenangan.

Pembangunan individu untuk membentuk jiwa pemimpin, tahap awal dimulai dari pola kaderisasi yang baik, yaitu melalui organisasi atau komunitas. Dari sini setiap individu masyarakat akan terbiasa dengan bermacam sudut pandang memecahkan kasus yang sedang dihadapi, merumuskan ide-ide, merancang dan melaksanakan program, sampai pembentukan budaya kerjasama untuk meraih kemajuan organisasi.

Pertanyaan yang timbul adalah adakah komunitas dan organisasi yang dapat dijadikan tempat kaderisasi di Gampong saat ini ? Jika tidak ada, dari tahap mana bisa dimulai ?

Kita dapat berangkat dari kumpulan individu-individu yang dilandasi cita-cita yang sama, lalu jiwa individu itu akan membentuk sebuah ikatan kesadaran bersama untuk melakukan sesuatu. Tingkat kesadaran juga didorong oleh faktor banyaknya informasi yang didapat, baik itu pengamatan realita, berita, dan terpenting adalah kekayaan Literatur alias bahan bacaan. Semakin banyak bacaan, maka daya fikir dan analisa semakin baik, maka setiap individu dapat membayangkan bagaimana mestinya konsep pembangunan tersebut diwujudkan. Seorang pemimpin harus memiliki wawasan yang luas, agar ia dapat menghadirkan solusi yang bijak, dan dapat dilaksanakan oleh seluruh elemen individu.

Kita dapat sepakat, bahwa inilah tahapan mengkader pemimpin di tingkat gampong yang menjadi perhatian saat ini. Sebuah investasi mendongkrak kapasitas sumberdaya manusia, khusunya melahirkan pemuda pemimpin di era serba teknologi digital saat ini dan di masa yang akan datang.

Kekayaan literasi adalah jalan menuju kemajuan dan kesejahteraan gampong, sebab dengan literasi (yang diperoleh dari bacaan, penglihatan, dan pengalaman) akan mendorong lahirnya kesadaran jiwa bahwa kita sedang memiliki tanggung jawab bersama untuk melaksanakan kewajiban sebagai pemimpin. Pengetahuan akan membangkitkan hasrat bagi pemimpin untuk melaksanakan program-program pembangunan.

Kegagalan pembangunan muncul dari ketidaktahuan kita akan sesuatu apa yang semestinya dibangun, atau justru kita merasa sok tahu. Kita lebih mengutamakan terlebih dahulu pembangunan fisik yang diperlihatkan dengan timbunan beton, dibanding membangun kesadaran manusia yang mengarah pada rasa kebersamaan untuk bahu-membahu meraih kesejahteraan. Jika kesadaran bersama sudah dibentuk, maka dengan sendirinya pemimpin mendapatkan dukungan melaksanakan program-program pembangunan ke arah yang tepat. Perbedaan cara pandang dan suara-suara sumbang yang bertaburan, adalah hal wajar terus mewarnai kehidupan kepemimpinan itu sendiri.

Oleh karena itu, kebijakan pemerintah gampong saat ini harus segera menujukan perhatiannya ke persoalan kaderisasi. Kebijakannya yaitu membentuk, mendukung dan menghidupkan komunitas/organisasi untuk menghasilkan produk generasi pemimpin masyarakat. Kita tidak bisa berharap dan berdoa akan ada sang penyelamat berupa seorang pemimpin gampong di masa depan. Akan tetapi kita lah yang menciptakan pemimpin, agar ia benar-benar menjadi juru pembangunan gampong kearah yang tepat.

Dengan demikian, sumberdaya alam yang melimpah, teknologi yang canggih, dan dana desa yang banyak belum dapat menjamin sasaran pembangunan kearah tepat, bila didukung oleh kapasitas sumberdaya manusia itu sendiri. Gampong-Gampong kita sendiri misalnya, boleh berbangga dengan kekayaan alamnya, tetapi tidak mampu mengelolanya. Ibarat mati dalam lumbung padi, sebab kita berada dalam ketidaktahuan.

Mudah-mudahan, ketidaktahuan tersebut dapat diberantas melalui kaderisasi pemimpin dalam organisasi dan komunitas kepemimpinan di Gampong-gampong. Sehingga menciptakan kesadaran kolektif individu-individu membangun gampong kearah lebih baik. Secuil PR kita bersama. Mohon maaf bila keliru.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *