by

Merdeka : Fikiran dan Jiwa

-Opini-47 views

oleh : Fahrurrazi

Kita telah melewati perayaan HUT RI pada 17 Agustus 2020 lalu. Tanggal tersebut petanda bahwa bangsa Indonesia yang 75 tahun lalu mendeklarasikan kemerdekaannya dari kolonial. Dalam catatan sejarah, 350 tahun Indonesia dijajah oleh Belanda maupun Jepang. Para founding father kita telah menciptakan sejarah baru bagi, sebuah negara yang merdeka dan berhak menentukan nasib bangsanya sendiri.

Dengan jiwa patriotik dan semangat nasionalis yang tinggi, rakyat Indonesia bahu membahu untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air nya. Aksi-aksi pengambil alihan kekuasaan, aset-aset, dan sebagainya merupakan langkah awal untuk mandiri mengelola negara ini.

Bagaimana para founding father dan para pemimpin waktu itu mampu menggerakkan segenap tumpah darah meraih kemerdekaan ?

Dalam perspektif saya pribadi, mereka mendapat proses pendidikan yang baik yang mampu membentuk intelektual, emosional, dan spiritual yang kuat. Melalui pendidikan mengantarkan jiwa mereka peka dan sadar terhadap apa yang dirasakan waktu itu. Lahir dorongan untuk berbuat bagi diri dan bangsanya, sehingga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk mengusung kemerdekaan.

Kekerasan, ancaman, dan perang adalah keadaan yang harus dirubah menuju kedamaian dan ketentraman. Bahwa manusia Indonesia harus membebaskan jiwanya dari belenggu-belenggu tirani dan penjajahan. Maka melawannya harus melalui gerakan-gerakan berbasis pada pencerahan. Sejarah mencatat, gerakan2 itu misalnya Serikat Islam, Budi Oetomo, maupun partai politik.

Ada cita-cita yang besar yang dibawakan melalui gerakan-gerakan itu, karena telah ditanamkan pengetahuan kesadaran kolektif, lalu mengarahkan segenap jiwa untuk melawan politik kolonialisme, dan pada akhirnya menggantikan dengan gagasan membangun negara untuk membawa bangsa Indonesia untuk maju dan terhormat.

Sekarang, usia kemerdekaan memasuki usia ke-75 thn. Lantas bagaimana kita memaknai kemerdekaan ? apakah cukup dengan perayaan alias seremoni dengan serangkaian upacara, hormat bendera, dan menyanyikan lagu Indonesia raya setiap tahun ? Apakah kita benar-benar telah merdeka ? sementara realita berbanding terbalik dari makna kemerdekaan itu. atau pertanyaan mendasar adalah sudahkah fikiran dan jiwa kita merdeka ?

Sesuai apa judul diatas adalah upaya untuk mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar tersebut. Kita meyakini pada hakikatnya kemerdekaan mesti berawal kesadaran. Sementara kesadaran dibentuk berdasarkan tingkat fikiran dan pengetahuan, serta perasaan yang mendorong jiwa untuk melakukan sesuatu, Perubahan. sebuah kata kunci bagi para pemimpin.

Merdeka : Fikiran dan jiwa, adalah sesuatu yang abadi. Karena ia menyangkut sejauh mana akal digunakan. sementara akal adalah instrumen paling tinggi yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta. Akal bukan berarti otak atau hal2 menyangkut sesuatu yang keluar dari kepala, tapi akal merupakan kombinasi dari fikiran, perasaan, dan kemauan.

Jika fikiran, perasaan, dan kemauan itu berlandaskan akal, maka tercapailah tujuan itu dengan baik. Jika nafsu yang mengendalikan itu, maka siap2 saja kerumitan dan kekacauan akan terhidang.

Maksud kami adalah hakikat merdeka yakni terbebasnya fikiran dan jiwa dari nafsu yang membuat manusia terkukung pada kebodohan maupun pembodohan, terjebak pada kesempitan fikiran, tersumbatnya telinga dari kebenaran, dan tertutupnya mata dari kebusukan, sehingga yang muncul adalah ego dan kesombongan. Pada akhirnya timbul sikap saling salah menyalahkan antar sesama anak bangsa.

Pemimpin menyalahkan rakyat, rakyat menyalahkan pemimpin, dsb. Semuanya ingin jadi pemenang, tidak mau mengalah , apalagi bijaksana. Semua ingin menyelamatkan diri dan kelompokya. Tidak ada lagi kesadaran kolektif. Pada akhirnya suasana menjadi keruh, cita-cita kemerdekaan pun tak bisa diwujudkan.

Oleh karena itu, perayaan kemerdekaan bukan hanya kegiatan seremonial belaka. Akan tetapi, sebuah milestone sejauh mana bangsa Indonesia melangkah, sejauh mana para pemimpin berbuat untuk rakyatnya, sejauh mana pendidik mampu mencerahkan generasi, dan sejauh mana setiap individu eleman bangsa memberikan kontribusi kolektif demi kemajuan NKRI.

Merdeka fikiran dan jiwa adalah kemerdekaan sebenarnya…

Salam, 17 Agustus 2020 (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *