by

Perspektif Iman Terhadap Corona

-Opini-68 views

Penulis : Salahuddin Harahap, Dosen Filsafat UIN Sumatera Utara

Seorang Eskatolog asal Trinidad, Imran Husein mengetengahkan bahwa ujian Allah SWT terhadap makhluknya akan berevolusi secara linier dengan perkembangan peradaban dunia, tepatnya perkembangan sains dan teknologi. Hal serupa, telah pula Allah SWT praktekkan ketika memberikan kitab bahkan mu’jizat secara beragam kepada setiap rasulNya based on tantangan peradaban yang dihadapinya.

Persoalan mendasar sementara manusia adalah, ketika cara berimannya “mapan” alias mandeg alias stagnan alias kaku yang kemudian melahirkan banyak keheranan, tanda tanya tapi  enggan menjawab. Allah SWT (tafsir bebas dari Q. S al-Baqarah:26), menyindir keadaan ini dengan menjelaskan bahwa, akan ada saatnya ketika Allah SWT mementaskan sebuah kejadian (bisa bencana, bisa kegembiraan, bisa perumpamaan), lalu di antara manusia ada satu golongan, yang langsung memberikan kesimpulan dengan berkata ini pasti dari tuhan saya (annahu al-haqqu min rabbihim), jawaban yang berkonotasi ada titik temu antara nalarnya dengan nalar tuhan, sehingga tidak ada tanda tanya lagi. Al-Qur’an menyebut mereka dengan lebel “amanu” yang imannya up to date.

Lalu, ada golongan lain yang mengajukan berbagai tanda tanya dengan berkata “Mau apa lagi tuhan dengan kejadian ini, akan banyaklah yang gawat dan akan banyak pula yang mengambil keuntungan dari keadaan ini. Terhadap golongan ini al-Qur’an memberi predikat “kafaru” yang secara bebas mau saya artikan mereka yang tak cukup mampu menangkap alasan dan substansi peristiwa yang terjadi karena nalar dan imannya usang dan tidak up to date.

Virus Corona/Ilustrasi

Al-Qur’an melebeli golongan kedua ini dengan “Kafaru” bukan tanpa alasan yang logis, sebab pada ayat lain al-Qur’an (Q.S al-Rum: 41) telah memberikan isyarat bahwa, setiap kerusakan (al-fasad) yang terjadi di bumi ini pasti karena kuasa manusia (kasabat aydi al-nas) kuasa ilmu, kuasa penelitian, kuasa keserakahan, kuasa eksploitasi, kuasa kehormatan, kuasa ekonomi, kuasa power. Dengan begitu, setiap peristiwa yang terjadi mestinya tidak boleh absen dari nalar manusia mulai dari sebab, maksud dan tujuan hingga untuk apa (hikmah) dari setiap kejadian itu. Karenanya, jika terdapat ada orang yang selalu heran dengan sebuah peristiwa, maka ia dapat disebut telah “Kafir”,akan hal itu karena terlindas dari aspek nalar maupun paham terhadapnya.

Corona (Covid-19) sebenarnya dapat dilihat sebagai evolusi dari banjir atau gunung merapi atau tsunami di masa-masa silam. Ia tampil dalam form yang demikian halus hanya untuk menyesuaikan dengan peradaban dunia saja yang saat ini memang sudah serba atom, serba digital dan serba hologram. Nalar manusia, terutama mereka yang sedang berada pada menara gading peradaban sains dan teknologi memang sudah dipenuhi dengan dimensi serba halus ini yang dalam bahasa filsafat dapat disebut satu langkah menuju metafisika. Karenanya mereka akan mengambil posisi sebagai subjek atau bahkan owner dan pengendali atas sebab dan akibat peristiwa ini (yahdi bihi katsiran). Merekalah yang akan mampu membaca peluang untuk melakukan lompatan peradaban dari peristiwa ini baik peluang ekonomi, power, pengaruh, penelitian sains dan teknologi terutama tentang medicine. Percis seperti mereka yang mampu memanfaatkan suburnya lahan akibat banjir maupun letusan gunung pada masa silam.

Golongan beriman “Amanu” tentu mereka yang secara cepat dapat menangkap alur nalar alam bahkan nalar tuhan dalam setiap peristiwa. Problemnya, ketika iman seseorang dalam level up to date tapi belum pernah mendapatkan kajian Islam transitif karya Ansari Yamamah sehingga imannya tidak berorientasi total produksi. Akibatnya, mereka ini dapat dengan tenang dan paham akan hakikat peristiwa Corona ini, tapi tidak memilih untuk ikut sebagai pengendali untuk memanfaatkan setiap peluang yang dilahirkannya.

Penting direnungkan bahwa, kehadiran Corona bukanlah sebagai titik kulminasi peradaban, tetapi hanya fase dari sederetan fase yang harus dihadapi dan dikendalikan untuk dapat menapaki anak tangga peradaban. Karenanya, sudah saatnya kita mengambil kendali atas kondisi ini, setidaknya kendali psikologis, mental agar tidak terpuruk dan terdistorsi disebabkan satu virus dari milyaran virus yang mengitari kehidupan kita sejak sedia kala. Wallahu A’lam

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita