by

Potensi Gas Rumah Kaca (GRK) dari Industri Kelapa Sawit

Oleh : Al ramzi,S.T.
Kasie Kerusakan Lingkungan
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang

TAMIANGSATU.COM – Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Aceh Tamiang, berawal di bulan Februari 1848 benih kelapa sawit yang merupakan tanaman asli dari Afrika dibawa oleh orang berkebangsaan Belanda lalu di tanam di ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg atau sekarang dikenal dengan nama Kebun Raya Bogor, hingga kini tanaman ini merupakan tanaman perkebunan primadona di Indonesia dan sawit pernah mencatatkan salah satu penyumbang devisa negara pada Tahun 2017 dengan nilai USD 23 miliar atau setara 300 Triliun, belum lagi tenaga kerja yang di butuhkan cukup besar serta pembangunan infrastruktur dan pembukaan akses akses desa yang terisolir. Namun di balik pesatnya perkembangan industri kelapa sawit nasional ada persoalan dampak lingkungan yang serius yang harus kita hadapi seperti limbah pabrik dan perkebunan serta perambahan hutan, pada sektor industri kelapa sawit menurut Stichnothe dan Schuchardt dalam melakukan penelitian life cycle assessement (LCA) di PPKS pada tahun 2009 – 2010 menyebutkan limbah sawit menyumbang 77% Global Warning Potensial (GWP) (Kg CO2-eq) selain dari perkebunan, transportasi dan pabrik kelapa sawit. Artinya Setiap ton TBS yang diolah akan melepas 7 kg gas methane dalam kolam limbah dan 230 Kg CO2-eq bila tandan buah kosong dibuang begitu saja. Dengan jumlah pabrik kelapa sawit sebanyak 11 unit di Kabupaten Aceh Tamiang total potensi emisi gas rumah kaca yang disumbang bila Tanda Buah Segar yang di olah sebanyak 260 Ton /Jam (total target produksi PKS di Aceh Tamiang) maka gas methane yang di lepaskan dari pengolahan TBS sebesar 1.820 kg Methane dari kolam limbah dan 59.800 Kg CO2-eq dari tandan kosong, Perjam.

sumber foto: dok.pribadi (Kolam Limbah salah satu Pabrik Kelapa Sawit)

Dengan angka yang begitu besar industri kelapa sawit masuk dalam salah satu kategori dalam penyumbang emisi GRK yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim dimuka bumi. Hal ini menjadikan kelapa sawit mendapat penentangan dari aktivis pencita lingkungan dan di tambah tidak sehatnya persaingan dagang antar sesama produsen minyak nabati dunia karena kalah bersaing dengan minyak kelapa sawit yang lebih ekonomis. Oleh karena itu penerapan indutri kelapa sawit lestari berkelanjutan adalah cara untuk mendukung dalam mereduksi emisi gas rumah kaca dari industri kelapa sawit. Langkah itu salah satunya dapat berupa melakukan pengolahan limbah pome menjadi pembangkit listrik tenaga Biomass (PLTB),komposting dan land aplication.

Untuk tandan kosong (tangkos) dapat dilakukan dengan membuat komposting. Dengan pemanfaatan teknologi, best management pratices dan ikut melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim diharapkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang di hasilkan industri kelapa sawit akan berkurang sehingga manfaat lebih besar yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Mari jaga lingkungan jangan rusak alam kita agar suhu dunia tidak meningkat 2 derajat lebih hangat demi kehidupan yang lebih baik.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita