oleh

RAMADHAN Vs CORONA

-opini-35 views

Salahuddin Harahap, Dosen Filsafat UIN Sumatera Utara,

Entah darimana awal mula dan bagaimana cara mengurainya, dalam beberapa media online sedang gencar diberitakan bahwa bacaan ayat suci alquran dan kumandang azan dapat menghempang bahkan menghancurkan virus corona. Meskipun, tentu saja pandangan ini membutuhkan perenungan atau bahkan penelitian, tetapi sudah jauh lebih maju dari pada anggapan atau harapan sementara orang, kalau virus Corona ini adalah tentara Allah Swt yang diutus untuk menghukum manusia atas berbagai dosa dan khilaf.

Memang lah al-Qur’an telah mendeklarasikan dirinya sebagai obat bagi berbagai atau bahkan setiap penyakit yang menimpa bumi dan penghuninya pada yang dapat dilihat pada beberapa ayat yang kemudian dikenal dengan ayat-ayat al-Syifa sebagai berikut: (1) Dan (Allah ) akan melegakan hati orang-orang yang beriman [At-Taubah 9: 14]: (2) Hai Manusia, sesunguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yunus 10: 57]; (3) Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia [An-Nahl 16: 69]; (4)Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

[Bani Israil (Al-Israa) 17: 82]; (5) Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku [Do’a Nabi Ibrahim dalam Surat Asy-Syu’raa’ 26:80]; (6) Dan katakanlah (wahai Muhammad ) bahwa (Qur’an) itu adalah petunjuk dan menyembuhkan bagi orang-orang yang beriman [Fushshilat 41:44].

Tentu terdapat sejumlah pandangan menyangkut hubungan antara ayat-ayat ini dengan kesembuhan penyakit. Mulai dari penjelasan bahwa penyakit yang dimaksud hanya sebatas penyakit hati (qalb) dan tidak termasuk fisik,  bahwa kata penyembuhan dalam ayat-ayat ini hanya sebatas isyarat untuk meneliti dan menggali potensi obat-obatan di bumi, hingga ada pula yang meyakini bahwa ayat-ayat ini dapat secara langsung dijadikan obat lewat mendengar, membaca, menghafal atau mewiridkan-nya. Tentu tulisan ini mengabaikan perdebatan pemaknaan tersebut dengan mendudukkannya sebagai keragaman bukan perbedaan apalagi pertentangan.

Tinggal beberapa hari lagi insya Allah dengan rahmat dan kasih sayang Allah Swt, kita akan dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Bulan yang dipilih oleh Allah Swt sebagai momentum bagi penurunan al-Qur’an menjadi wahyu bagi al-Rasul Saw untuk dijadikan pemberi petunjuk, termasuk di antaranya petunjuk untuk terbebas dari penyakit (al-Syifa).

Dalam beberapa riwayat Rasulullah Muhammad Saw— telah mengisyaratkan agar selama Bulan Ramadhan, setiap muslim mesti melipatgandakan ibadah dan amalnya agar paralel dengan janji Allah Swt yang akan melipatgandakan ganjaran terhadap setiap ibadah dan amal shaleh seorang muslim yang berpuasa.

Konsisten terhadap hal itu, maka dapat diduga bahwa Bulan Ramadhan akan menjadi bulan dimana shalat, azan, qira’a al-Qur’an, dzikir, tasbih, tahmid, takbir dan shalawat akan dilakukan lebih banyak atau lebih sering oleh umat Islam melebihi bulan-bulan lain. Sehingga jadilah bulan ini sebagai bulan penuh hikmah, penuh rahmat, penuh ampunan bahkan juga dipenuhi dengan kesembuhan (al-syifa) atas segala penyakit yang diderita bumi beserta penghuninya termasuk manusia.

Jika alur pikir ini dapat diterima, maka sebagai seorang muslim patutlah kita membangun kegembiraan, optimisme dan harapan agar kehadiran Ramadhan kali ini akan membawa berbagai rahmat termasuk kesembuhan bumi dan manusia dari sejumlah penyakit termasuk Pandemi Corona ini.

Ada anggapan sementara orang bahwa, Corona ini telah dengan sengaja dibuat dan disebarkan oleh kelompok tertentu demi pemenuhan hasrat berkuasa, hasrat ekonomi, hasrat kemajuan sains dan teknologi. Jikapun hal ini terbukti, maka al-Qur’an akan mendeteksi ini sebagai penyakit peradaban yang akan dapat tersembuhkan. Terhadap hal itu Ramadhan menyediakan momentum kondusif dan strategis untuk melakukan perenungan, introspeksi, muhasabah seterusnya membangun komitmen untuk lebih baik dan lebih peka terhadap ancaman peradaban dunia.

Ada juga yang berpandangan bahwa Corona ini hanyalah evolusi alamiah virus yang kebetulan menabrak beberapa tradisi, kebiasaan bahkan aktifitas  manusia saat ini dengan tak terkendali, sehingga  membuka jalan penyebaran yang demikian cepatnya. Andai pun pandangan ini terbukti, maka al-Qur’an akan tetap mendeteksi ini sebagai penyakit berupa kelemahan pada nalar dan tradisi kita yang belum mampu menemukan vaksin atau solusi untuk menghancurkan atau untuk beradaptasi dengan tingkah laku dan ancaman Corona ini. Untuk ini Ramadhan menyediakan momentum yang kondusif dengan segala fasilitas kemudahan untuk melakukan tadarrus, tafakkur, kontemplasi, diskusi dan eksprimentasi.

Seterusnya, jika pun ada anggapan bahwa ini merupakan bentuk hukuman dan ujian dari Allah Swt, maka akan tetap dapat dideteksi sebagai penyakit hati, penyakit sosial, maka Ramadhan membuka ruang dan waktu yang demikian kondusif untuk melakukan pertaubatan dan pembersihan diri hingga kita akan bergerak dari zona azab atau zona merah kembali ke zona rahmat dan ampunan atau zona hijau.

Marhaban ya Ramadhan, ya Syahra al-Qur’an, ya Syahra al-Syifa, ya Syahra al-Rahmah wa al-Maghfirah. Wallahu A’lam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Index Berita