by

Selebriti oh selebriti Covid-19

-Nasional-13 views

Oleh A.A. Ariwibowo

Anda ingin menjadi wartawan profesional? Itu simpel saja, silakan berujar dalam kata dan bertekad dalam hati, “Saya pasti mampu menjadi wartawan profesional”. Mengapa? Karena Anda mendengar, melihat dan merasakan dengan mengandalkan kemampuan pancaindra.

 Apakah gajah atau keledai mampu menjadi wartawan profesional? Jembatan keledai jawaban atas pertanyaan itu: bahwa hewan tidak mampu memerankan dirinya sebagai selebriti yang mengerlingkan mata dan bulu mata yang lentik saat diambil gambar oleh rekan hewan.

 Selebriti dibaptis sebagai selebriti karena mereka dianggap lulus ujian dari serangkaian eksperimen saat menghibur publik yang merasa cemas dan mengidap gundah saat melewati masa pandemi Covid-19. 

Saat pandemi Covid-19, salah satu pertanyaan kritis dari anak pra-sekolah, “Mengapa gajah kupingnya lebar?” Dan orangtua – entah ayah atau ibu – menjawab, “Gajah berkuping lebar karena ia ingin dikenal secara utuh bukan dari kupingnya yang lebar saja, tetapi juga dari badannya yang besar.”

Jika kelak sang anak menjadi ilmuwan yang menemukan obat atau vaksin Covid-19, atau justru menjadi selebriti kondang, maka mereka mengacu dan merujuk kepada apa yang disebut sebagai Fakta, yang didengar, dilihat dan dirasakan dengan menggunakan pancaindra.

Fakta yang dicerap kemudian ditulis dan disiarkan dalam berita – entah dalam media cetak, media portal atau media elektronika – lantas disebut sebagai data yang belakangan menyita perhatian publik saat pandemi Covid-19. 

Bagaimana tidak? Penyaluran bantuan sosial bagi keluarga miskin dan rentan miskin di Jakarta, di luar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi masih terkendala oleh ketersediaan, kelengkapan, dan keakuratan data.

 Selain itu, masyarakat umumnya masih bertanya mengenai kebijakan di lapangan soal pengoperasian kembali sarana transportasi di tengah pandemi Covid-19. Meskipun, penerapaan protokol kesehatan terus digencarkan dengan disertai sejumlah sanksi atas mereka yang melakukan pelanggaran. 

Nah, apa fungsi dan peran selebriti? Bagi selebriti, ada dari mereka yang telah melelang dan menjual barang-barang kesayangan mereka, antara lain jaketnya, T-shirtnya, sneakersnya, bahkan menghimpun followersnya demi menggalang dana yang bakal disumbangkan bagi para korban pandemi Covid-19. 

Bagi wartawan, apa yang dilakukan para selebriti itu dapat dideskripsi secara singkat dan padat dengan dipandu oleh makna bahwa para selebriti telah mampau melampaui “sang aku” dengan melego barang-barang kesayangannya demi memperoleh dana bagi korban pandemi Covid-19. 

Wartawan menembus logika dari pandemi Covid-19, bahwa data bukan sebatas dan sekedar rentetan angka-angka yang ditata dan disusun agar dapat dibaca oleh publik. Data perlu menyertakan makna. 

Wartawan lantas dapat saja menyimpulkan bahwa jurnalistik merupakan kegiatan yang mengungkapkan dan menentukan makna suatu peristiwa dan mengartikulasikan setiap pernyataan. 

Misalnya, pemerintah menargetkan 9 juta keluarga sasaran bantuan langsung tunai (BLT), adalah warga terdampak Covid-19 di luar Jabodetabek yang belum masuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) dan belum memperoleh program bansos reguler, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan pangan nontunai (BPNT). 

Silakan mencermati kata “adalah” dari paragraf di atas. Adalah menunjuk kepada pemerian, yang artinya terdapat sembilan juta keluarga yang terdampak Covid-19 ternyata belum memperoleh bansos.  

Soal bansos, bukan sekedar huruf “b a n s o s”, melainkan perut mereka perlu mendapat makanan dan minuman, serta asupan energi yang memadai agar mereka mampu bekerja atau beraktivitas. 

Logika pandemi Covid-19, salah satunya menunjuk kepada krisis yang perlu ditanggulangi bukan justru dibesar-besarkan, atau disulap untuk dijadikan proyek sana proyek sini demi menebalkan kantong pribadi. 

Pernyataan bahwa “ada korban pandemi Covid-19” merupakan pernyataan tautologi. Ada korban, jelas ada korban, karena ada pandemi Covid-19. Sama sebangun dengan pernyataan “lingkaran itu bulat”.  

Tinggal sekarang, wartawan mencari bukti faktual di lapangan mengenai mereka yang belum memperoleh bansos. Menyebut data mengenai korban pandemi Covid-19 tanpa menyertakan bukti faktual sama saja seperti bermain musik tanpa mengetahui partitur nada: do re mi fa sol la si do. 

Untuk itulah, verifikasi menjadi penting bagi kerja wartawan. Artinya, data terjamin akurasinya sejauh dapat dibuktikan kebenarannya dengan fakta yang terjadi di lapangan. Caranya, melakukan observasi. 

Dengan melakukan observasi, wartawan dapat menggali pengalaman, perasaan, suka dan duka dari mereka yang belum menerima bansos. Tajam tidaknya “nose for news” wartawan lebih teruji dan terbukti saat mengobservasi setiap fakta dan peristiwa, terlebih mereka yang menjadi korban pandemi Covid-19. 

Profesi wartawan mirip-mirip dengan mereka yang bekerja di laboratorium. Prosedur bekerja di laboratorium menyertakan dan mensyaratkan kalimat-kalimat instruktif misalnya pasanglah alat-alat XYZ, mulailah percobaan dengan mengoperasikan alat-alat XYZ, perhatikan cara kerja alat-alat itu pada waktu Z, dan pada suhu 5.000 Volt masukkan cairan L M N T pada alat XYZ.

Berbekal kalimat-kalimat instruktif itulah, wartawan diharapkan mampu mengungkapkan fakta yang terjadi dengan melukiskan atau mendeskripsikan setiap pengalaman atau fenomena yang mereka dengar, lihat dan rasakan dengan mengandalkan kemampuan pancaindra.

 So, pertanyaan, “Mengapa gajah kupingnya lebar?” lebih ingin mengajak anak-anak pra-sekolah dan sekolah bahkan sampai perguruan tinggi – juga wartawan – untuk tidak jemu-jemu melakukan observasi terhadap fakta dan peristiwa.

 Thanks untuk selebriti, karena pengalaman akan pandemi Covid-19 hanya dapat diukur dan ditakar maknanya bila menghasilkan dan mencetuskan pengalaman baru. 

So, berhentilah menjadi selebriti data. Jadilah wartawan yang bergumul dan berkutat di laboratorium fakta bernama pandemi Covid-19. 

Sumber: Lpdsnews.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *