by

Sumpah Pemoeda : Pemuda dan Hakikat Pendidikan

-Opini-138 views

by Fakhrurrazi
Penulis Buku : Sardjana Kehidoepan

Setiap tanggal 28 pada bulan Oktober, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Sumpah Pemuda yang dideklarasikan sejak tahun 1928 atau 92 tahun yang lalu. Dikalangan pemuda millenial, rasa kebanggaan digaungkan melalui jagat digital, terutama status di medsos. Ada ucapan selamat, kata-kata motivasi, ulas sejarah, bahkan memuat unsur kritik kepada pemimpin negeri. Beragam status di medsos itu mencerminkan bahwa pemuda millenial tetap peduli dengan momen sejarah bangsa, meski hanya di dunia virtual.

Pertanyaan yang timbul adalah apakah pendidikan sudah mampu mengangkat kesadaran jiwa para pemuda ? Seperti apa hakikat pendidikan yang ideal bagi pemuda ?

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kehadiran pemuda terus mewarnai setiap perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesadaran kolektif yang dimiliki oleh individu-individu pemuda se tanah air, lalu membentuk sebuah gerakan persatuan guna melawan penjajahan belanda. Para kaum pemuda terdidik menjadi pelopor pergerakan. Tokoh – tokoh yang lahir dari gerakan ini berperan penting hingga mengantarkan Indonesia meraih kemerdekaan.

Pendidikan memiliki pengaruh universal mendorong lahirnya berbagai gerakan. Sebab, disinilah kesadaran manusia akan jati dirinya sebagai manusia dibentuk. Pada dasarnya manusia sebagai makhluk yang dianugerahi akal fikiran, berusaha untuk mempelajari apa yang ada di sekitarnya, melihat realita dengan panca indera, merasakan dengan hati nurani, dan secara tahapan alamiah menginginkan perubahan dalam dirinya maupun kehidupan sosial. Ilmu pengetahuan, moral, filsafat, seni, ideologi, dan spiritual agama, merupakan seperangkat instrument yang dibutuhkan oleh jiwa manusia untuk meraih perubahan-perubahan tersebut. Sehingga manusia dapat melahirkan peradaban dan sejarah, seperti perlawanan penindasan dan penjajahan, meraih kemerdekaan, membangun ekonomi, insfrastruktur, mengembangkan sains dan teknologi, serta mengatur tatanan sosial politik.

Kekacauan peradaban dan sejarah, berawal dari seperangkat instrument jiwa manusia tidak bisa dikendalikan. Sebab, makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak dapat dapat melampaui kelebihan manusia. Mereka hanya tunduk dan patuh terhadap ketentuan hukum-hukum alam atau sebab-akibat, seperti proses biologis, fisis, dan kimia yang melekat pada diri mereka. Hal ini berbeda dengan manusia, disamping tunduk pada hukum-hukum alam, akan tetapi juga dapat menentukan nasib kehidupannya. Kenapa terjadi kekacauan ? nafsu yang becokol pada instrument jiwa itu tidak bisa dikelola dengan baik, maka yang akan muncul adalah penindasan, Korupsi-Kolusi-Nepotisme (KKN), tamak dan kerakusan, matearilis, hedonistik, kesenjangan sosial, ketidak-adilan, kerusakan lingkungan, kezaliman, konflik dan peperangan, dan kekacauan lainnya.

Kebijaksanaan merupakan hakikat pendidikan, guna mampu meraih kesempurnaan akal dan mengontrol hawa nafsu. Gerakan perubahan yang dilakukan pemuda, mesti dimulai dengan kesadaran penuh dan cita-cita yang lebih mulia, tidak hanya sebatas luapan emosional, dibutakan dengan nafsu untuk meraih tujuan, pada akhirnya yang terjadi adalah kembali kepada kekacauan. Ini menjadi PR bagi dunia pendidikan kita untuk membimbing para pemuda ke arah yang lebih baik. Penanaman nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, kebersamaan, kepedulian, kebebasan, toleransi, inovasi dan kekritisan, solusioner, adalah dasar-dasar untuk mengangkat kesadaran jiwa para pemuda melalui dunia pendidikan.

Inilah nilai-nilai yang terkandung dalam lirik Lagu Indonesia Raya : .. Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya..”. Dengan demikian, makna pendidikan harus mendapat tempat utama sebagai upaya melepaskan belenggu-belenggu hewaniah dan materilistik manusia. Sehingga, membentuk kesadaran kolektif individu untuk membangun bangsa kearah lebih baik, sebuah bangsa yang berkarakter kuat, integritas, dan saling bahu-membahu menuju kebaikan.

Kesuksesan pendidikan tidak dinilai lagi dari raihan kekayaan, materi, pangkat, pekerjaan sebagai standard. Namun, kesuksesan pendidikan dilihat dari kemauan belajar terus menerus sepanjang hayat, baik di institusi pendidikan, maupun sekolah kehidupan. Belajar dari kesalahan, refleksi, lalu berbuat yang terbaik bagi ummat menjadikan pemuda sebagai manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan bangsa. Mau nanti kaya, berpangkat, dan profesi apapun, semuanya hanyalah jalan yang berbeda menuju Tuhan. Siap-siap saja akan diminta pertanggungjawaban di hadapanNya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *